Indonesia dan Rusia mempunyai hubungan dalam berbagai bidang. Secara historis, dalam berbagai bidang Rusia dan Indonesia memiliki hubungan yang angat beragam. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerjasama dibidang diplomatic, ekonomi, teknologi, pariwisata hingga pendidikan dan budaya. Hubungan kedua Negara ini berawal dari pembukaan Konsulat luar biasa di Jakarta. Pergolakan politik dan arus sejarah membuat dampak pandangan masyarakat khususnya masyarakat Indonesia yang mayoritas berpandangan negatif ini mempengaruhi pola perkembangan pendidikan yang merupakan salah satu bentuk hubungan ke-dua negara ini. Pandangan negative ini memicu kami untuk membuat makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia umumnya dan civitas akademika khususnya.
Tahun 1960-an merupakan tahun jayanya masa pertukaran pelajar Indonesia-Rusia. Pelajar dan TNI memanfaatkan hubungan ini untuk belajar dan berlatih di Rusia. Tetapi setelah tahun 1960-an Rusia tidak lagi menjadi Negara tujuan utama bagi para pelajar.
Berkembang pula hubungan dalam bidang budaya dan pendidikan: pada bulan Agustus 2005, pameran seni lukis yang diikuti oleh pelukis moderen Rusia diselenggarakan di Jakarta, hal ini sudah menjadi tradisi, pada bulan Oktober dibuka festival film Rusia dengan judul “Persahabatan tidak mengenal batas”. Pada bulan Juni 2006 ansambel tarian anak-anak “Kalinka” ikut serta dalam festival seni Jakarta.
Pada bulan Desember 2005 di Jakarta diselenggarakan presentasi buku “Rusia Baru menuju demokrasi” dengan penciptanya, seorang ahli sejarah Indonesia A. Fachrurodji dan malam peringatan 80 tahun VOKS – SSOD-Roszarubezhtzenter. Sesuai dengan program beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Rusia, tiap tahun sekitar 25 mahasiswa dari Indonesia diberangkatkan untuk kuliah di perguruan tinggi Rusia.
Saat ini telah banyak kerjasama Universitas di Indonesia dan Rusia yang berlangsung. Animo pelajar Indonesia semakin meningkat. Tidak mau kalah, pelajar di Rusia pun menunjukkan animo yang serupa ditunjukkan dengan adanya pertukaran di sektor universitas swasta maupun negeri di Indonesia, Apa
yang dipelajari para mahasiswa Indonesia? ,ereka umumnya mengambil jurusan teknik mesin. Kebanyakan di Universitas Negeri Politeknik St.Petersburg dan Universitas Negeri Teknik Mesin St.Petersburg, jurusan kedokteran, jurusan bahasa dan sastra Rusia, hubungan internasional , jurnalistik, ekonomi dan manajemen, geologi minyak dan gas, ilmu politik , sosiologi , sosial antropologi, sejarah Rusia, psikologi, informatika, teologi agama Kristen Orthodox. Semua jurusan ini harus diawali dengan belajar bahasa Rusia selama satu tahun.
Duta Besar yang didampingi staf fungsi penerangan dan pendidikan serta ekonomi tersebut juga menawarkan program beasiswa “Dharmasiswa” bagi mahasiswa Rusia. Bagi mereka yang tertarik terhadap bahasa dan budaya Indonesia dapat mengajukan aplikasi ke KBRI dan bila lolos dapat menikmati belajar di salah satu universitas Indonesia selama 6 bulan atau satu tahun.
Selain itu, salah satu universitas Negeri di Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman, merencanakan mengadakan pertukaran mahasiswa ke Rusia dalam bidang ilmu kedokteran, ilmu teknik.universitas yang dituju adalah University of Moskow yang dinilai memiliki potensi dalam bidang yang dicanangkan tersebut. Hal tersebut diungkapkan pada pertemuan dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia Yuri Nicolavich Zozulya
Selain itu, salah satu universitas Negeri di Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman, merencanakan mengadakan pertukaran mahasiswa ke Rusia dalam bidang ilmu kedokteran, ilmu teknik.universitas yang dituju adalah University of Moskow yang dinilai memiliki potensi dalam bidang yang dicanangkan tersebut. Hal tersebut diungkapkan pada pertemuan dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia Yuri Nicolavich Zozulya
2.3. Faktor Pendorong
Karena adanya otonomi universitas di kedua Negara, maka dapat dilangsungkan kerjasama dibidang pendidikan. Hal tersebut merupakan salah satu factor pendorong secara umum. Secara khusus, :
1. pendidikan di Rusia memberikan peluang yang cukup besar yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Mungkin sistem pendidikannya masih tergolong “kuno” dibanding dengan sejumlah negara Barat. Sistem kredit, misalnya, baru mulai dilaksanakan di beberapa perguruan tinggi.
2. Disiplin yang tinggi juga diterapkan dengan keras sehingga misalnya seorang mahasiswa yang sering membolos kecil kemungkinannya untuk lulus ujian karena sang dosen pasti ingat dan mencatat kehadirannya.
3. Di Moskwa dan St.Petersburg, mahasiswa S1 dan S2 yang mencapai nilai rata-rata 4-5 (nilai tertinggi = 5) mendapat beasiswa sebesar 600 Ruble atau kurang dari USD $25,- (kurs saat ini USD $1,- = 26,60 Ruble). Mahasiswa S1 dan S2 yang berhasil mencapai nilai rata-rata 5 mendapat kenaikkan beasiswa menjadi 900 Rubel. Perguruan tinggi RUDN (People Friendship University of Russia) dulu dikenal sebagai Universitas Patrice Lumumba memberikan beasiswa kepada mahasiswa S3 sebesar 1000 Rubel. Mahasiswa Indonesia pada umumnya tinggal di asrama mahasiswa. Biaya yang dikeluarkan untuk tempat tinggal di asrama tergantung berapa banyak tempat tidur dalam sebuah kamar. Kamar dengan 2 tempat tidur tentu lebih mahal dibanding dengan kamar dengan 3-4 tempat tidur. Biaya indekos ini dari tahun ke tahun naik terus. Agung Giarda Sugiharto mahasiswa beasiswa angkatan 2003, yang sekolah di RUDN jurusan jurnalistik, memulai indekosnya dengan biaya kamar 30 Ruble per bulannya. Sejak angkatan 2006, bagi mahasiswa beasiswa harga kamar dengan 3 tempat tidur mulai dari 240 Ruble tergantung fasilitas sekolah masing-masing. Seorang mahasiswa asal Maluku yang sekolah di Universitas Keuangan & Ekonomi Negeri St.Petersburg (FINEC) jurusan manajemen, Belo A. Beti Rolahilo, harus membayar indekos 740 Rubel dengan fasilitas sekolah yang lebih baik dari sekolah lain. Biaya sewa kamar tidak termasuk listrik. Besarnya pengeluaran untuk listrik tergantung seberapa banyak barang elektronik yang dibawa. Barang elektronik dikenakan biaya 30 Rubel per barang. Mahasiswa non-beasiswa perlu ongkos lebih besar untuk bayar asrama yaitu antara USD $40,- sampai dengan USD $70,- setiap bulannya. Di luar itu semua, berapa biaya yang dikeluarkan setiap mahasiswa untuk makan, transport, beli buku dan lain-lain ? Menurut beberapa mahasiswa Indonesia sekitar USD $200,- sampai USD $300,-. Ini untuk hidup dengan makanan bergizi yang dimasak sendiri. Untuk mahasiswa menghemat yang sering makan mie instant (bahasa Rusia: dosirak) tentunya jauh lebih irit. Apalagi untuk yang makan sehari hanya 1 atau 2 kali. Alasan yang umum tidak sempat sarapan karena takut terlambat. Maklum, beban pekerjaan rumah dan belajar adalah bagian dari kehidupan mahasiswa di mana-mana.
4. di Moskwa ada banyak pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Dari jaga piket di pos jaga kedutaan, jadi guru bimbingan belajar siswa-siswi anak-anak staf KBRI -- baik yang sekolah di Sekolah Indonesia Moskwa (SIM) maupun yang di sekolah asing-- jual makanan di kantin kedutaan, jadi guide untuk tamu-tamu yang datang dari Indonesia, sampai ikut membantu program-program KBRI. Mahasiswa Indonesia di kota-kota lain perlu lebih jeli mencari peluang-perluang kerja sambilan. Beberapa mahasiswa asal Maluku yang sekolah di St.Petersburg cari uang saku tambahan dengan ngamen main musik sambil nyanyi di satu-satunya restoran Indonesia di kota itu. Mahasiswa jurusan mesin bekerja di bengkel sekolah atau perusahaan lain yang pemiliknya sudah dikenal. Viktoria, mahasiswi Universitas Negeri Ekonomi Rostov on Don jurusan perdagangan di kota Rostov, membuat martabak dan kue-kue lain yang dijual untuk teman-temannya di asrama.
5. Tradisi ilmu pengetahuan Rusia juga sangat tinggi. Universitas Negara St.Petersburg berdiri pada 1724. Adalah seorang Rusia, Yuri Gagarin, yang merupakan manusia pertama yang menginjak angkasa luar. Saat ini lebih banyak lukisan Picasso ada di Rusia dibandingkan dengan di negara-negara lain. Di bidang sastera Rusia juga menghasilkan A.Pushkin, Leo Tolstoy, Dostoyevski, N. Gogol, Solzenitshin dan lain-lain. Di bidang musik ada komponis Rachmaninof dan Tschaikovsky yang ikut mengembangkan tradisi musik klasik Rusia begitu mendunia sehingga membuat seorang Gita bersikeras ingin belajar di Rusia. Rusia juga menghasilkan Eisenstein, yang dianggap seorang pembaharu dibidang film yang membuat Syuman Djaja dan Ami Prijono belajar sinematografi di Rusia pada 1960-an dan ikut mempengaruhi perfilman Indonesia pada periode itu.
2.4. Faktor Penghambat
Zelenev mengeluhkan kendala mahasiswanya untuk belajar bahasa dan budaya di Indonesia. Tidak semua mampu menanggung biaya hidup di Indonesia yang semakin hari semakin mahal. Oleh karenanya diusulkan adanya model pertukaran mahasiswa merupakan factor penghambat umum yang melatarbelakangi pertukaran pelajar, secara khusus :
1. rasialisme masih kuat terasa di sini. Sikap tidak suka, iri, benci orang Rusia terhadap kaum kulit berwarna merupakan bagian lain yang harus dihadapi oleh mahasiswa Indonesia dan orang-orang kulit berwarna lain di negeri ini. Sikap seperti ini memang bukan stereotype ada di setiap hati orang Rusia, namun ancaman dari kelompok-kelompok anti kulit berwarna seperti Skinheads tetap perlu diwaspadai;
2. Cuaca merupakan hambatan besar. Musim dingin di Rusia bisa sangat ekstrim dan suhu udara, seperti yang pernah terjadi tahun ini di Moskwa, bisa anjlok sampai di bawah 30 derajad Celsius. St. Peterburg, tempat Gita belajar, orang hanya bisa menikmati cahaya matahari sekitar tiga bulan;
3. Semua orang harus siap dengan pakaian berlapis-lapis. Bahkan di musim dingin pun kita harus memakai sepatu yang didalamnya berlapiskan (semacam) karpet. Jangan lupa topi dan selendang wool. Belum lagi bahasa Rusia yang sulit dipelajari. Kita yang terbiasa dengan huruf Latin akan dipusingkan oleh huruf Cyrillic yang merupakan abjad bahasa Rusia. Sekedar contoh: ”CTOП” membacanya “STOP”. Lalu “PECTOPAH”adalah “RESTORAN”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar